{"id":294,"date":"2025-09-04T00:49:03","date_gmt":"2025-09-04T00:49:03","guid":{"rendered":"https:\/\/bahasa.mupatjunior.id\/?p=294"},"modified":"2025-09-04T00:51:41","modified_gmt":"2025-09-04T00:51:41","slug":"tukang-sepatu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bahasa.mupatjunior.id\/index.php\/2025\/09\/04\/tukang-sepatu\/","title":{"rendered":"Tukang Sepatu"},"content":{"rendered":"\n<h5 class=\"wp-block-heading has-text-align-center\">oleh: <em>Suratiningsih<\/em><\/h5>\n\n\n\n<p>Cahaya lampu menebar menerangi kamar. Malam ini aku masih sibuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah sampai larut malam. Aku anak SMK jurusan Teknik. Dilahirkan di tengah keluarga sederhana. Ayahku seorang tukang kayu dan ibu adalah ibu rumahtangga. Ibu selalu setia mendampinggi ayah.<\/p>\n\n\n\n<p>Kondisi perekonomian keluarga yang sulit membuat aku harus ikut bekerja membantu ayah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sebagai seorang pemuda usia belasan tahun aku tak memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang, bermain-main, seperti pemuda-pemuda lain di kampung. Menjelang sore banyak teman sebaya menghabiskan waktu nongkrong di pinggir jalan, asyik ngobrol menghabiskan waktu di angkringan, menikmati secangkir kopi, bersendau gurau dengan pemuda yang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Sepulang sekolah, saat mentari mulai menggelincirkan tubuh ke barat. Aku masih membantu pekerjaan ayahku. Sampailah menjelang adzan Maghrib berkumandang. Ayahku mendidik disiplin menunaikan shalat berjama\u2019ah di masjid. Kami sekeluarga bergegas mempersiapkan diri. Selepas shalat Maghrib, anak-anak kampung menghampiriku. Seperti hari-hari biasanya mereka ingin belajar iqra\u2019 bersamaku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKak Budi,\u201d suara Alif memanggilku. Sekarang ngaji lagi kan, Kak?<\/p>\n\n\n\n<p>Aku mengangguk, memberikan isyarat malam ini mengaji lagi. Anak-anak berjajar rapi membentuk lingkaran menunggu kehadiranku di majelis kecil ini. Mereka juga berasal dari keluarga tak mampu, tapi memiliki semangat juang tinggi untuk belajar bersama.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAlhamdulillah\u2026adik-adik pintar, sholeh, sholihah semuanya. Tadi kakak perhatikan saat adik-adik menunaikan shalat Maghrib tidak ada yang bercanda. Wah kalian hebat\u2026terima kasih ya,\u201d kataku sebelum memulai kegiatan ini.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMari\u2026kita buka dengan berdo\u2019a bersama-sama.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Anak-anak kecil itu berdo\u2019a besama-sama.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKita lanjutkan hafalan kita dulu ya\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKemarin kita sampai surat An Naba\u2019? Sekarang kita lanjutkan An Naziat.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAdik-adik ada yang sudah hafal?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTapi aku belum hafal semuanya Kak\u2026Baru hafal 15 ayat,\u201d sahut Syahrul.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cLah\u2026itu bagus Dik Syahrul. Ayo\u2026kita coba hafalkan bersama-sama.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Lantunan Qur\u2019an surat An Naziat mulai terdengar, menghiasi masjid kita ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Kami lalui rutinitas bada\u2019 shalat Maghrib bersama adik-adik.<\/p>\n\n\n\n<p>Sesekali kusisipkan kata-kata motivasi agar kami beristiqomah untuk tetap mengaji. Nabi bersabda, \u201cSebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan Al Qur\u2019an.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDimanapun adik-adik berada jangan pernah tinggalkan Al Qur\u2019an.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIya, Kak,\u201d adik-adik menjawab dengan semangatnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Di penghujung semester, saatnya aku menempuh ujian akhir. Alhamdulillah nilai-nilaiku sempurna, sangat memuaskan bagi orang kampung sepertiku.<\/p>\n\n\n\n<p>Tibalah saatnya aku lulus dari SMK. Malam semakin larut. Hujan di luar sana sangat deras. Tetesan air hujan sesekali menembus atap kamarku. Pandanganku ke atas menatap genting retak yang berhasil ditembus air hujan. Aku lihat jam dinding tepat pukul 22.00. Biasanya di malam-malam seperti ini aku masih disibukkan dengan tugas-tugas sekolah. Tapi malamini tak ada lagi tugas sekolah. Aku terus berpikir, apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Untuk melanjutkan ke perguruan tinggi rasanya tak mungkin. Aku tak mau menambah beban ayahku.<\/p>\n\n\n\n<p>Di ruang tengah, beralaskan anyaman daun pandan, ayah dan ibu duduk melepaskan lelah. Aku menghampiri, minta izin untuk merantau mengadu nasib di Bontang. Rasanya ibu keberatan aku kerja di sana seperti teman-teman sekelas.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAyah, Ibu\u2026Budi ingin bekerja di Bontang. Teman-teman sekelas juga merantau kesana.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSiapa tau kalau Budi bekerja disana bisa membantu Ayah, Ibu. Hidup kita bisa berkecukupan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Aku melihat wajah ibu sedih. Tak seperti biasanya. Ibu yang selalu mendukung dan memberi semangat, hanya terdiam menatapku. Sesekali ibu melemparkan pandangannya kearah ayah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBudi\u2026begini saja.\u201d Kata Ayah memulai pembicaraan, mencairkan suasana yang sedikit beku dan kaku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKamu coba mendaftarkan diri ke perguruan tinggi. Nanti untuk biaya pendaftaran Ayah akan mengusahakan. Jika diterima, kamu bisa kuliah sambil bekerja.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIlmu itu sangat penting Bud\u2026Dengan berbekal ilmu kamu bisa bermanfaat bagi banyak orang. Selagi kamu masih muda manfaatkan waktu dan kesempatan yang ada. Jangan pernah kamu sia-siakan begitu saja.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Aku mengangguk dengan kepalaku tertunduk\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Pagi menjelang siang aku berencana ke rumah Ahmad. Kami teman satu kelas, Ahmad berencana pergi ke Bontang bersama teman-teman. Ahmad dan keluarganya menyambutku dengan ramah. Secangkir kopi hangat dan kacang rebus menemani obrolan kami.<\/p>\n\n\n\n<p>Sesaat lagi adzan Dhuhur berkumandang. Aku bergegas minta izin pulang. Langkahku terhenti saat adzan berkumandang. Aku menuju masjid untuk bergabung melaksanakan shalat jama\u2019ah.<\/p>\n\n\n\n<p>Usai shalat aku bertemu Pak tua pedagang kerupuk. Kami asyik bercerita. beliau menceritakan bahwa anak-anaknya bisa kuliah diperguruan tinggi. Aku semakin tertegun mendengarkan cerita itu. Kemudian aku bertanya penghasilan beliau dalam penjualan krupuknya. Dalam pikirku, tak masuk akal dengan penghasilan segitu bapak ini bisa mencukupi kebutuhan keluarganya dan membiayai kuliah anak-anaknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Bapak tua itu tersenyum ramah. Beliau berpesan bermainlah ke rumahnya jika ada waktu. Beliau memberikan alamat rumah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBapak mau melanjutkan jualan. Sudah ya anak muda.\u201d Setelah mengucapkan salam Pak Tua itu berlalu dari hadapanku.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku membantu Ayahku memasah kayu. Pesanan pintu dari seorang saudagar di kampung sebelah. Aku masih penasaran dengan pertemuanku dengan Pak Tua di depan masjid tempo hari. Kok bisa ya\u2026rasa penasaran semakin membelenggu.<\/p>\n\n\n\n<p>Akhirnya selepas aku mendaftarkan diri di satu universitas di Yogyakarta aku putuskan mampir ke rumah Pak Tua. Di rumah kayu itu terlihat beberapa anak-anak muda sibuk membuat sepatu kulit. Selain berjualan bapak tua dan keluarganya itu memproduksi sepatu kulit.<\/p>\n\n\n\n<p>Sesekali aku bertanya tentang proses pembuatan sepatu. Pandanganku tertuju pada sepatu warna hitam yang tersusun rapi di rak pajangan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPak, sepatu ini harganya berapa?\u201d tanyaku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cOh&#8230;itu harganya seratus ribu, Nak?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Aku mencoba membuka dompet. Ah ada uang seratus ribu. Kebetulan aku tak punya sepatu. Sepatuku yang dulu sudah robek-robek. Tak apalah aku beli.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPak saya ambil sepatu yang ini, ya?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Hari ini aku lihat pengumuman penerimaan mahasiswa baru. Namaku tertulis di urutan pertama. Aku bergegas memberikan kabar ini kepada kedua orangtuaku. Ucapan syukur\u2026memulai langkah kakiku di salah satu universitas Yogya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBud\u2026sepatumu bagus,\u201d kata Alif memandangi sepatu yang kupakai.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKamu suka, Lif?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIya\u2026Keren.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cYa sudah kalau kamu mau \u2026kamu pakai saja.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBagaimana kalau aku ganti saja, Bud? Kamu belinya berapa?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIni aku beli seratus ribu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTrus aku harus ganti berapa nih?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAh sudah Lif, sama dengan aku beli saja.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Selang berganti hari, Alif menghampiriku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBud&#8230;Budiiii\u2026.\u201d Ia berlari-lari kecil menyusulku. Langkahku terhenti di lorong&nbsp; menuju ruang kuliah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAda apa, Lif? Pagi-pagi kok sudah lari-lari seperti ada yang penting saja.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Alif tersenyum. Kami seiring sejalan sambil berbincang.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBegini lho, Bu. Omku kemarin ke rumahku, eh\u2026dia tertarik dengan sepatu kulit yang kubeli darimu. Kira-kira bisa tidak aku minta tolong untuk memesankan sepatu kulit lagi?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cOh\u2026begitu. Ya\u2026sudah, insya Allah setelah aku selesaikan pekerjaanku membantu ayah aku pesankan ya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Terik matahari menembus kulitku. Hari ini panas sekali. Tenggorokan terasa kering, memanggil-manggilku untuk segera mengalirkan air putih agar bisa menghilangkan rasa haus dan dahaga. Langkahku terhenti, mencari tempat duduk untuk sekadar melepas sedikit lelah. Aku ambil botol minum yang tersedia di tas ranselku. Ah\u2026lega rasanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku lanjutkan perjalanan menuju Halte Trans Jogya. Tak begitu lama menunggu, angkutan umum warna hijau berpadu kuning itu datang menghampiri penumpang yang sudah menunggu.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari kejauhan aku lihat ayahku masih sibuk menyelesaikan beberapa pesanan pintu dan jendela kayu. Aku langkahkan kakiku lebih cepat agar bisa segera membantunya. Begitulah aktivitas sepulang kuliah. Sesekali jika pekerjaan ayah bisa aku tinggalkan, aku mencari lowongan pekerjaan dengan bekal ijazah SMK.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari surat lamaran yang aku ajukan ke beberapa perusahaan, belum ada satu pun kabar berita. Tapi tak apalah aku harus terus mencoba. Aku niatkan di hatiku ini sebagai ikhtiar. Aku tidak tahu selepas semester satu dari mana bisa mendapatkan uang untuk membayar biaya kuliah. Rasa khawatir akan biaya kuliah terus menghantuiku.<\/p>\n\n\n\n<p>Di hari libur kuliah aku sempatkan pergi ke rumah kayu, dimana Pak Tua dan keluarganya memproduksi sepatu kulit. Aku sudah berjanji kepada Alif untuk memesankan sepatu kulit. Pak Tua dan keluarganya menyambut dengan ramah. Aku ceritakan tujuanku berkunjung. Pak Tua tersenyum dan mengajakku di ruang produksi sepatu kulit. Aku mengambil sepasang sepatu kulit seperti yang dipesan Alif. Dengan ragu-ragu aku bilang kepada Pak Tua.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPak maaf\u2026saya belum punya uang untuk membayar sepatu ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSepatu ini pesanan dari teman saya apakah saya diizinkan untuk membawanya? Nanti jika teman saya sudah bayar, baru saya bayarkan kepada Bapak.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBaiklah, Nak\u2026Boleh, silakan sepatunya dibawa dulu.\u201d Pak Tua segera membungkus sepatu itu dan menyerahkan kepadaku.<\/p>\n\n\n\n<p>Ucapan terimakasihku kepada Pak Tua sebelum aku berpamitan. Hatiku sangat bahagia. Aku kayuh sepedaku menuju rumah Alif. Aku lihat Alif dan keluarganya duduk bersantai di teras. Dengan senyum girang aku hampiri Alif. Ia bergegas berlari memendekatiku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHai\u2026gimana, Bud? Sepatunya sudah ada?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sambil tersenyum aku ulurkan bungkusan plastik kresek hitam.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBud\u2026ayo masuk rumah dulu, kebetulan omku ada di dalam.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Alif mengajakku masuk ke ruang tamu, mempertemukanku dengan omnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSilakan duduk, Bud.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Aku duduk di sofa segi empat yang memenuhi ruang tamu. Suasana begitu nyaman. Alif masuk ke dalam memanggil omnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cOm&#8230;perkenalkan ini Budi temanku, yang membelikan sepatu kulitku kemarin.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cOh&#8230;iya\u2026Bagaimana pesanan sepatu untuk om sudah ada kah?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSudah Om.\u201d Alif mengulurkan bungkusan sepatu kulit itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Om duduk disebelahku. Membuka bungkusan itu dan mencobanya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cWah pas sekali ini, Bud. Berapa harganya?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah aku menjawab seratis ribu, ia mengambilkan uang dari dompetnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIni Bud,\u201d kata om sambil mengulurkan dua lembaran uang kertas kepadaku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cOh\u2026seratus ribu saja, om.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cLho kamu kesini naik apa?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cNaik sepeda, om.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIni yang sepuluh ribu untuk ongkos naik sepeda.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Budi tersenyum.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAh&#8230;tidak usah om, saya sudah terbiasa naik sepeda kok.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTidak apa-apa, Bud.\u201d Om menyelipkan uang seratus sepuluh ribu rupiah di kantong bajuku.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan rasa bahagia aku kayuh sepedaku lebih kencang dari biasanya. Aku laju sepedaku menuju rumah kayu, memenuhi janjiku kepada Pak Tua. Sepanjang perjalanan aku berpikir, \u201cWah hanya sebentar saja aku jualkan sepatu kulit itu aku mendapatkan uang sepuluh ribu rupiah. Bagaimana jika bisa menjualkan sepatu lebih banyak lagi ya. Aku bisa mengumpulkan uang untuk biaya kuliahku di semester depan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sepeda berhenti di depan rumah kayu. Aku menghampiri Pak Tua.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPak\u2026Alhamdulillah, hari ini teman saya sudah membayar sepatu itu. Ini saya bayarkan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan tersenyum Pak Tua menerima uang lembaran seratus ribu. Di teras depan rumah kayu kami berbincang. Aku ceritakan niatku untuk ikut menjualkan sepatu kulit.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJika saya mengambil lebih dari satu sepasang sepatu, saya harus DP berapa persen?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAmbil saja semampumu, Nak. Jika sepatu yang kau bawa sudah laku, baru kamu bayarkan kepada Bapak.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Hatiku sangat girang menerima kebaikan hati Pak Tua. Aku ambil tiga pasang untuk aku jual.<\/p>\n\n\n\n<p>Selepas jam kuliah, aku berjalan menuju gang-gang kecil di kota untuk menawarkan sepatu. Dari rumah kerumah. Hari pertama tak seorang pun membeli sepatu kulit itu. Aku tidak putus asa. Setiap hari sepulang kuliah aku terus mencoba menawarkan sepatu kulit.<\/p>\n\n\n\n<p>Dihari ketiga ada ibu-ibu yang membelikan sepatu kulit untuk suaminya. Hatiku sangat senang. Aku lanjutkan perjalanan menawarkan sepatu kulitku sambil tetap mengingat-ingat materi kuliahku. Saat adzan berkumandang aku bergegas ke masjid. Disitulah selepas shalat aku baca-baca lagi materi kuliah sambil bersandar di tiang masjid yang menyejukkan hati.<\/p>\n\n\n\n<p>Sepatu kulit habis terjual aku kembali ke rumah kayu untuk bertemu dengan Pak Tua. Senang rasanya bisa menyetorkan semua hasil penjualan. Selain itu, mendapatkan keuntungan tiga puluh ribu rupiah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cNak\u2026ini bonus untuk untuk hasil penjualan mu.\u201d Pak Tua memberikan uang kepadaku enam puluh ribu rupiah untuk tiga sepatu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAh\u2026tidak, Pak. Saya sudah mengambil keuntungan dari penjalan sepatu itu?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTidak apa-apa, terima saja ini adalah rezekimu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Hatiku semakin berbunga-bunga. Aku mendapatkan keuntungan ditambah bonus dari Pak Tua. Aku semakin bersemangat menjadi sales sepatu kulit. Sepulang kuliah aku berkeliling dari rumah ke rumah menawarkan sepatu.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada suatu ketika ada ibu-ibu pesan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMas\u2026jualan kain batik Yogya?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cOh\u2026 iya Bu insya Allah saya carikan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Aku coba mencari kain batik di Pasar Bringharjo Yogyakarta. Disana aku temukan kios penjualan kain batik. Aku bilang pada pemiliknya jika aku mencari kain batik untuk dijual kembali. Pemilik kios bilang pembelian harus cash. Kalau begitu aku ambil dua dulu saja, karena uang tidak cukup.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku kembali ke rumah ibu yang pesan kain batik. Alhamdulillah dua lembar kain batik dia beli semua. Lega rasanya. Aku berusaha memuaskan pelanggan-pelanggan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sampailah aku di semester tiga. Aku bersyukur selalu ada rezeki yang Allah titipkan kepadaku untuk biaya kuliah. Dari hasil penjualan sepatu kulit, bisa menopang biaya kuliah. Di semester tiga matakuliah kewirausahaan mengubah pola pikirku. Dosen kewirausahaan mengadakan workshop digital marketing. Disinilah aku belajar pemasaran secara oneline. Melalui media-media sosial. Matakuliah ini sangat membantu dalam mengembangkan potensi diri.<\/p>\n\n\n\n<p>Dosenku bilang jika ada mahasiswa yang sudah memiliki usaha beliau berjanji akan memberikan nilai A plus. Dengan mudah aku bisa mendapatkan nilai sempurna. Saat dosenku memintaku untuk menyusun business plan, dengan mudah aku mempresentasikan di depan teman-temanku. Aku ceritakan suka duka menjadi sales sepatu kulit. Penjualan sepatu kulit semakin meningkat. Omset jutaan rupiah sudah biasa aku lampaui.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku tetap memegang komitmen untuk tetap belajar dan bekerja seperti pesan Ayah, agar bisa bermanfaat bagi sesama. Bukan hanya memikirkan diri sendiri. Aktivitasku yang padat membuatku tak sempat berpikir untuk bermai-main menghabiskan waktu seperti teman-teman.<\/p>\n\n\n\n<p>Sampai akirnya aku diwisuda jenjang S1 dengan predikat cumlaud. Aku bersyukur bisa membahagiakan Ayah Ibu, melihatku dengan toga wisuda di auditorium kampus tercinta. Dengan nilai-nilaiku yang nyaris sempurna aku mendapatka beasiswa melanjutkan studi jenjang S2.<\/p>\n\n\n\n<p>Rasa bahagia semakin kurasakan di hari wisuda. Mendapat kesempatan mejanjutkan studi S2 dengan beasiwa full studi membuat aku semakin bersyukur. Iya betul, bahwa rencana Allah lebih indah dari rencana kita. Allah memberikan segalanya agar hidup kita lebih bermakna. Aku mahasiswa tercepat, terbaik, dan cumlaud membuat orangtua semakin bersyukur. Aku tahu betul bahwa semua ini tak lepas dari do\u2019a ibu dan ayah yang rajin bangun di sepertiga malam untuk melangitkan do\u2019a-doanya<\/p>\n\n\n\n<p>Menjadi mahasiswa S2 aku jalani dengan lebih semangat lagi. Apalagi ini adalah amanah beasiwa yang harus dipertanggungjawabkan. Aku semakin bertekad suatu saat nanti harus bisa memberikan banyak manfaat bagi banyak orang. Studi S2 berjalan lancar.<\/p>\n\n\n\n<p>Selesai S2 aku diminta menjadi dosen di salah satu universitas di Yogyakarta. Menjadi dosen adalah panggilan jiwa agar bisa terus berdiskusi, memotivasi, menginspirasi anak-anak muda untuk memiliki semangat juang tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku bahagia banyak mahasiswa tertarik dengan cara mengajarku. Karena prestasiku di kampus aku mendapatkan kesempatan melanjutkan studi S3.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAyah Ibu, aku tuntaskan harapan dan do\u2019a mu untuk terus berdo\u2019a, belajar, bekerja, dan terus menuntut ilmu,\u201d kataku dalam hati.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Penulis tinggal di Jatirejo, Sendangadi, Mlati, Sleman,Yogyakarta<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>oleh: Suratiningsih Cahaya lampu menebar menerangi kamar. Malam ini aku masih sibuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah sampai larut malam. Aku anak SMK jurusan Teknik. Dilahirkan di &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":295,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_themeisle_gutenberg_block_has_review":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-294","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tak-berkategori"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bahasa.mupatjunior.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/294","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bahasa.mupatjunior.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bahasa.mupatjunior.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bahasa.mupatjunior.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bahasa.mupatjunior.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=294"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/bahasa.mupatjunior.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/294\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":297,"href":"https:\/\/bahasa.mupatjunior.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/294\/revisions\/297"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bahasa.mupatjunior.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/295"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bahasa.mupatjunior.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=294"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bahasa.mupatjunior.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=294"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bahasa.mupatjunior.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=294"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}